Friday, June 24, 2005

Wisata Indonesia : Berwisata di Tana Toraja

Tanah Toraja, merupakan salah satu obyek WISATA INDONESIA yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah Utara Makassar ini sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah adat ini bernama TONGKONAN.

Tongkonan

Atapnya terbuat dari bambu yang dibelah dan disusun bertumpuk, namun saat ini banyak juga yang menggunakan seng. Tongkonan ini juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata emas, perunggu, besi dan kuningan. Kehadiran Tongkonan selalu membuat kagum masyarakat negeri tersebut karena bentuknya yang unik. Perbedaannya dengan yang ada di Tanah Toraja hanya terletak di atapnya yang menggunakan bambu.Masih banyak lagi daya tarik dari Tanah Toraja selain upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah kesohor selama ini.
Alam Tana Toraja sangat indah, sehingga dijuluki objek wisata primadona, untuk di Sulawesi Selatan dan Indonesia bagian Timur. Julukan ini pantas karena Tana Toraja sejak tahun 1960 telah dikenal oleh para tourist di berbagai manca negara.

Obyek Wisata di Tana Toraja

Buntu Kalando

Objek wisata ini adalah Tongkonan Puang Sangalla' yang telah difungsikan sebagai museum dan home stay, terletak di Kelurahan Kaero Sangalla' 20 Km dari kota Rantepao. Buntuk Kalando mempunyai adat "Tanado Tananan Lantangna Kaero Tongkonan Layuk" yaitu sebagai tempat kediaman "Puang Sangalla".
 
Tongkonan ini dibangun bersama dengan tiga lumbung padi (Alang Sura'). Buntu Kalando sebagai Tongkonan Tananan Lantangna Kaero Tongkonan Layuk dilengkapi dengan beraneka ragam tanduk yaitu tanduk kerbau, tanduk rusa, dan tanduk anoa terpampang di bagian muka Tongkonan dua buah kabongo' yaitu satu kabongo' bonga' Sura' dan satu kabongo' pudu' serta di atasnya didudukkan katik yang menyerupai langkan maega (burung elang), perlambang kebesaran.
Sebagai museum dalam tongkonan ini dilengkapi barang-barang koleksi antara lain:
1.      Alat kerajaan Sangalla'
2.      Pakaian adat kebesaran
3.      Barang-barang bersejarah
4.      Barang-barang antik
5.      Alat-alat perang
6.      Alat-alat ritus
7.      Alat-alat pertanian
8.      Alat-alat dapur
9.      Alat-alat makan
10.  Alat-alat minum
11.  Barang-barang berkhasiat (balo')
12.  Alat-alat top seks Toraja
13.  Dan lain-lain

Lemo
Berada di km 9 jurusan Makale-Rantepao masuk 600 meter. Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, hasil kombinasi antara ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kreasi tangan terampil Toraja pada abad XVI (dipahat) atau Liang Paa'. Jumlah lubang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.
Sejak tahun 1960, obyek wisata ini telah ramai dikunjungi oleh para wisatawan asing dan domestik.
Pengunjung dapat pula melepaskan keinginannya dan membelanjakan dollar atau rupiahnya pada kios-kios suvenir. Ataukah berjalan-jalan di sekitar obyek ini menyaksikan buah-buahan pangi yang ranum kecoklatan yang siap diolah dan dimakan sebagai makanan khas suku toraja yang disebut "Pantollo Pamarrasan".

Ma'daung Tondok

MISTIK!!!… Sepenggal kata yang mungkin cukup mampu mendesirkan bulu kuduk, hal itupun tepat untuk melukiskan adat Ma'daung Tondok Sillanan yang dalam pelaksanaannya penuh mengandung ritual-ritual mistis.
Ma'daung Tondok
Obyek wisata Ma'daung Tondok terletak di Kecamatan Mengkendek 20 km arah Selatan Makale, ke arah Barat, di Desa Sillanan. Obyek ini didukung oleh obyek-obyek wisata yang sangat menarik seperti : Lo'ko'wai, To'Banga, Pangrapasan dan Ma'dandan serta Tongkonan Karua Sillanan. Di mana masing-masing memiliki daya tarik yang spesifik dan keunggulan tersendiri seperti : Lo'ko'wai; di tempat ini terdapat mayat bayi yang unik dan awet (mummy) di mana rambut, kuku, gigi serta kulitnya masih utuh meskipun umur mayat tersebut diperkirakan sudah berkisar 4 ½ abad. Mayat tersebut disakralkan oleh masyarakat di wilayah adat Ma'daung Tondok yang secara mitologis diyakini adalah keturunan dewa. Kurang lebih 400 meter terdapat kuburan manusia purba yang terdiri dari tumpukan erong, serta beberapa liang pahat di sekitarnya. Hal lain yang bisa kita nikmati di sektor-sektor obyek ini adalah keindahan alam. Para pengunjung masih dapat menyaksikan pohon-pohon tropis yang terpelihara meskipun umurnya telah tua, dan berkhasiat obat. Perkampungan tradisional yang masih asli dan unik tempat upacara adat, suatu benteng pertahanan yang digunakan untuk memantau musuh pada sekitar abad XVI. Benteng ini tidak pernah diterobos oleh musuh pada zaman dahulu. Wilayah obyek wisata Ma'daung Tondok secara keseluruhan sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan siap menanti kunjungan Anda.

Museum Londorundun

Menurut penuturan lisan orang Toraja khususnya bagi para bangsawan khususnya di Kecamatan Sa'dan Balusu' dan Sesean bahwa Londorundun yang bergelar "Datu Manili", adalah seorang putri yang cantik jelita yang memiliki rambut panjang dengan ukuran 17 depah 300 jengkal atau dalam Bahasa Toraja "Sang pitu da'panna, Talluratu' Dangkananna". Gadis jelita ini dipersunting oleh seorang raja dari Kabupaten Bone yang bernama "Datu Bendurana".
Bukti sejarahnya adalah sebuah buku besar yang modelnya persis dengan sebuah kapal dikawal oleh dua batu kecil yang modelnya seperti perahu berada di Sungai Sa'dan di desa Malango' (Rantepao) sebelah kanan jembatan Malango' yang menurut cerita leluhur secara turun-temurun adalah kapal milik Datu Bendurana yang datang mencari dan menyelidiki Datu Manili (Londorundun). Mereka dipertemukan dalam jodoh dan oleh sebab itu orang Bone tidak boleh berselisih dengan orang Toraja, karena mereka mempunyai "Basse" atau "Perjanjian". Salah satu saudara kandung Londorundun adalah "Puang Bualolo" kawin ke wilayah Sa'dan, dan menjadi leluhur pemilik Museum Londorundun yang terletak di Desa Tallunglipu, kompleks Bolu-Rantepao.

Pala'tokke

Syahdan, dahulu ada seorang pria yang memiliki kesaktian, berbekal kesaktiannya pula Pala' Tokke mulai memanjat tebing dengan cara merangkak untuk kemudian membuat lubang pada tebing yang digunakan untuk menancapkan kayu sebagai penahan erong (peti mayat purba). Atas jasanya maka daerah ini kemudian diberi nama Pala' Tokke oleh masyarakat sekitar. Berkunjung ke Pala' Tokke dapat melihat peti mati yang menyerupai sebuah rak yang digantung pada sebuah tebing gunung.

Potek Tengan

Tak kenal maka tak sayang, sesudah dikenal bisa jatuh cinta. Sungguh jatuh cinta pada obyek wisata Potok Tengan di Desa Tengan Kecamatan Mengkendek, persis di bawah kaki Gunung Kandora. Obyek wisata ini memiliki suatu rahasia yang terpendam yang pasti punya makna dan arti hidup yang sarat dengan pertanyaan.
Ya, itulah 'Batu Suci' sebagai penjelmaan dari mayat 'Puang Pindakati' istri dari Datu Sawerigading. Permaisuri Datu Sawerigading ini dipuji-puji masyarakatnya di masa silam sebagai 'Dewi Pelindung' (Penolong). Sebagai penghormatan bagi Dewi Pelindung ini diadakan 'Pesta Meroek' setiap tahun.
Generasi dari Dewi Pelindung dan datu Sawerigading, mengatur pemerintahannya dalam 3 fungsi yang disebut Tallu Borangna, yaitu pada Tongkonan Potok Tengan, dan pemimpinnya bergelar Pattole Baine, pada Tongkonan Garompa bergelar Masulosulo. Masing-masing dengan fungsi Pemimpin Tertinggi (salassa'). Penerangan dan obyek wisata sekali lagi dilengkapi dengan suatu mitos dan mungkin pasti (you believe it or not), adalah seorang yang pada zamannya dipandang sebagai Dewa dengan gelar "Tomebanuaditoke", Tometondok Dianginni, To turunan dibentoen, To Losson di Batara Mendemme' di Kapadanganna, Dialah "Puang Tambora Langi" si pembawa adat Sanda Saratu yakni 7777 pasal yang menjadi tatanan adat, ada'na sukaran aluk masyarakat Toraja sejak leluhur hingga kini.
Sarana prasarana menuju obyek sebagian sudah baik, tetapi sebagian pula yang masih jalan setapak model jalan kampung tempo dulu. Namun Anda tidak merasa lelah dan tiba-tiba telah berada di puncak potok tengan, oleh karena melalui jalan-jalan ke Potok Tengan ada kekuatan gaib yang mengantar Anda.

Ranpanan Kapa'

Ranpanan kapa' adalah upacara perkawinan secara adat di Tana Toraja, yang dilaksanakan oleh orang-orang tua tempo dulu, dengan memenuhi beberapa persyaratan antara lain pihak laki-laki wajib menyerahkan mas kawin berupa "kaleke' dan pangan". Tetapi untuk zaman di alam modern ini, pihak laki-laki dan pihak perempuan sama-sama membiayai pesta pernikahan (toleransi atau patungan) juga pakaian pengantin telah dimodifikasi.

Ranta Tendan

Ranta Tendan adalah pusaka leluhur Puang Balusu dan keluarga-keluarga lainnya, yang digunakan untuk acara upacara Rambu Solo' (Ma'palao). Di Rante Tendan ini kita dapat menyaksikan hadirnya puluhan dari ratusan "Simbuang Batu" sebagai pertanda , bahwa upacara Ma'palo sudah banyak kali diadakan, digunakan sejak abad X pada zaman hidupnya Puang Takke Buku. Jarak Rante Tendan dari kota Rantepao ± 15 km.

Kuburan Batu, salah satu bentuk kuburan Orang Toraja

Untuk menuju Tanah Toraja yang mengagumkan ini terdapat jalur penerbangan domestik Makassar - Tanah Toraja yang saat ini hanya sekali seminggu dan memakai pesawat kecil berpenumpang delapan orang, yang memakan waktu 45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Jika lewat darat, perjalanan yang cukup melelahkan ini membutuhkan waktu selama tujuh hingga sepuluh jam.
Event menarik di kawasan wisata ini yaitu adanya upacara pemakaman jenazah (rambu solo) dan rambu tuka (pesta syukuran) yang merupakan kalender tetap tiap tahun. Selain event tersebut, para pengunjung bisa melihat dari dekat obyek wisata budaya menarik lainnya seperti penyimpanan jenazah di penampungan mayat berbentuk “kontainer” ukuran raksasa dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter serta tongkonan yang sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao.

Pesta Rambu Solo’ atau pesta/ritual acara penguburan

Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak pesona wisata yang ditawarkan oleh tana toraja sebagai daerah tujuan wisata andalan sulawesi selatan. Bagaimana? Tertarik melihat keunikan wisata budaya ini?



Monday, June 20, 2005

Wisata Indonesia : Museum Cut Nyak Dien, Aceh

Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dhien adalah seorang pahlawan wanita Aceh yang gagah berani. Ia lahir di Lampadang tahun 1848, dan menikah pada usia dua belas tahun. Pada tahun 1878 suami pertamanya, Ibrahim Lamnga meninggal karena tertembak dalam sebuah pertempuran melawan Belanda. Dua tahun kemudian, seorang pria bernama Teuku Umar datang ke pihak keluarga Cut Nyak Dhien untuk melamarnya.

Secara pribadi, Cut Nyak Dhien bersedia menerima lamarannya asalkan Teuku Umar menerima permohonannya, yaitu apabila menikah dengannya agar ia diizinkan ikut bersama suaminya berperang melawan Belanda. Permohonan Cut Nyak Dhien diterima Teuku Umar dan pada tahun 1880 mereka pun menikah. Sebagai seorang istri, ia setia dan selalu mendukung perjuangan suaminya.
Peristiwa kelam terjadi pada tahun 1899, Teuku Umar meninggal karena ditembak dengan peluru emas oleh tentara Belanda. Akhirnya, Cut Nyak Dhien mengambil alih kepemimpinan suaminya. Selama enam tahun ia berjuang bersama anaknya Cut Gambang, memimpin pasukan, menerapkan strategi perang gerilya dan hidup bersama pasukannya di dalam hutan. Akhirnya, di usianya yang senja dengan mata yang rabun ia ditangkap oleh tentara Belanda di hutan dan diasingkan ke Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pada tanggal 6 November 1908 ia meninggal dan dikebumikan di Gunung Puyuh, Kabupaten Sumedang.

Museum Cut Nyak Dien

Museum Cut Nyak Dhien berbentuk rumah tradisional Aceh (rumoh Aceh), merupakan replika rumah srikandi Aceh, Cut Nyak Dhien. Pada mulanya rumah ini adalah tempat tinggal pahlawan wanita Cut Nyak Dhien. Di era Perang Aceh, rumah ini sempat dibakar oleh tentara Belanda (1893) yang kemudian dibangun kembali pada permulaan tahun 1980an dan dijadikan museum. Pondasi bangunan ini masih asli.

Berkunjung ke museum Cut Nyak Dhien, pengunjung dapat mengenang keberanian dan kepahlawanan seorang Srikandi terkenal Aceh dalam perjuangan mempertahankan tanah air dari penjajahan Belanda. Museum ini memiliki nilai-nilai sejarah, budaya dan berarsitektur khas Aceh. Di dalamnya terdapat bukti dan benda-benda sejarah, koleksi peninggalan Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar.
Museum Cut Nyak Dien

Lokasi museum terletak di sebelah Barat Jalan Banda Aceh-Lhok Nga, di daerah pedesaan dengan hamparan sawah yang hijau, tepatnya di Desa Lampisang, Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

Jarak lokasi museum dengan kota Banda Aceh, kurang lebih 6 km. Dari Kota Banda Aceh dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi dalam waktu kurang lebih 10 menit. Apabila naik angkutan umum, yaitu labi-labi (angkot) jurusan Pasar Aceh-Lhoknga dapat ditempuh kurang lebih 20 menit dengan tarif sekitar Rp. 4000,00 (Feb 2008).

Thursday, June 16, 2005

Wisata Indonesia : Keindahan Pantai Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar

Panorama Pantai Lampuuk
Sebelum gempa dan tsunami 26 Desember 2004, Pantai Lampuuk menjadi salah satu objek wisata favorit masyarakat Aceh. Pohon cemara tumbuh rimbun di sepanjang pantai dengan hembusan angin pantai yang segar. 

Terdapat banyak tempat makan dengan penjaja ikan segar yang siap dipanggang dan bisa langsung dinikmati oleh pengunjung pantai. Berbeda halnya setelah terjadi tsunami, pantai ini terlihat sepi, kurang terawat dan banyak pohon cemara yang tumbang terkena tsunami. Namun demikian, saat ini pantai ini mulai dikelola kembali secara baik oleh pemerintah. Di akhir pekan atau hari libur banyak pengunjung yang datang untuk berekreasi. Khusus para staf Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional yang bertugas di Aceh, banyak dari mereka berekreasi dengan berselancar dan berlayar. Di samping itu informasi yang perlu diketahui oleh para pengunjung adalah adanya zona terlarang untuk aktivitas berenang, karena pusaran ombaknya terlalu berbahaya.

Di sekitar pantai berdiri megah sebuah pabrik semen Andalas yang sempat mengalami kerusakan parah akibat gempa dan Tsunami. Di dekat pantai juga terlihat sebuah mesjid megah berwarna putih – merupakan satu-satunya bangunan yang masih utuh ketika terjadi tsunami di kawasan ini dan telah ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai monumen tragedi tsunami. Masjid ini berada satu komplek dengan perumahan pasca tsunami yang dibangun pemerintah Turki.

Panorama Pasir Putih Pantai Lampuuk
Pantai Lampuuk sangat indah dengan pasir putihnya. Di pantai ini para wisatawan dapat berenang, berjemur, memancing, berlayar, berselancar, menyelam dan kegiatan rekreasi lainnya. Di kawasan pantai terdapat Padang Golf Seulawah dengan latar belakang panorama laut. Di sore hari pantai ini terasa lebih indah dan penuh pesona. Pengunjung dapat menyaksikan indahnya matahari terbenam, sehingga memberikan suatu kenikmatan tidak terlupakan.

Kawasan Lampuuk terletak di pantai barat Aceh di ujung pulau Sumatera. Ia berada di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Lokasinya berdekatan dengan pantai Lhoknga dan dapat ditempuh melalui jalur Banda Aceh – Calang (Aceh Jaya).

Jarak lokasi pantai dengan kota Banda Aceh, Ibu Kota Propinsi kurang lebih 20 km. Dari Kota Banda Aceh dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi dalam waktu kurang dari 20 menit. Apabila naik angkutan umum, yaitu labi-labi (angkot) jurusan Banda Aceh-Lhoknga ditempuh kurang lebih 35 menit.

Sunday, June 12, 2005

Wisata Indonesia : Danau laut tawar, Aceh Tengah

Danau Laut Tawar, Aceh Tengah
 Keberadaan Danau Laut Tawar menjadi kebanggaan masyarakat Aceh. Ia merupakan objek wisata alam yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. 

Danau ini menjadi sumber air yang dimanfaatkan tidak hanya oleh masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah, namun juga oleh masyarakat di kabupaten-kabupaten lainnya. Beredar cerita tradisional masyarakat Gayo tentang ikan depik, bentuknya seperti ikan hias bertubuh ramping bersisik putih berkilau dengan ukuran sebesar jempol tangan yang hidup di Danau Laut Tawar. Ceritanya, depik berasal dari butiran nasi yang dibuang ke danau. Ia akan muncul ke permukaan pada musim tertentu, khususnya pada saat musim hujan. Sebelum musim tiba, gerombolan depik bersembunyi di selatan danau, di kaki Gunung Bur Kelieten. Depik merupakan sebuah anugerah Tuhan kepada masyarakat Gayo, meski terus-menerus dikonsumsi, ia tidak pernah habis.

Panorama Danau Laut Tawar
Dua bukit yang mengapit danau ini, semakin memperlihatkan keindahan danau. Penyatuan perairan dan dataran memberi banyak sumber penghidupan bagi masyarakat, terutama di sekitar dataran tinggi Gayo. Sebutan laut karena luasnya seperti laut dan sebutan tawar karena airnya tidak asin. Air tawarnya menyimpan banyak flora dan fauna, salah satunya yang paling terkenal ialah ikan depik yang merupakan spesies ikan yang hanya ada di Danau Laut Tawar.
Di lokasi ini pengunjung dapat melihat masyarakat yang bercocok tanam dan memancing. Suatu aktivitas yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di sekitar danau. Komoditi unggulan yang ditanam di dataran tinggi Gayo antara lain, adalah kopi Gayo (kopi arabika) yang sangat terkenal di Jepang, kentang, markisa, tomat, cabe, jagung, dan sayur-sayuran. Hasil komoditi perkebunan yang cukup terkenal adalah jeruk keprok Gayo dan alpukat.
Panorama Danau Laut Tawar
Danau yang teduh ini terletak di sebelah timur Kota Takengon, di dataran tinggi Gayo (1.250 meter di atas permukaan laut), Kecamatan Lut Tawar, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ia merupakan danau terluas di Propinsi Aceh dengan luas sekitar 5.472 Ha, panjang sekitar 17 km dan lebar 5,5 km.

Akses menuju Takengon lebih mudah ditempuh melalui Kota Bireun. Ada sebuah terminal kecil tempat mangkal angkutan elf yang khusus ke Takengon. Lamanya perjalanan sekitar 5 jam dengan biaya kurang lebih sebesar Rp. 25.000. Selain dari Bireun, jalan alternatif menuju Takengon dapat juga ditempuh melalui Blang Kejeren dan Kutacane.

Tuesday, June 7, 2005

Wisata Indonesia : Genjring Kuda Putri, Indramayu


Salah satu Akrobatik Tradisional yang Masih Digemari Masyarakat hingga saat ini, dan menjadi salah satu daya tarik wisata indonesia yang harus dilestarikan.

Aksi akrobatik ternyata tidak hanya monopoli kaum lelaki. Di wilayah Indramayu dan Cirebon, kesenian akrobat tradisional Genjring Kuda Putri justru dilakukan kaum perempuan yang sudah berusia paro baya. Berbagai atraksi yang mengandalkan kekuatan fisik dan keterampilan khusus disuguhkan dalam tontonan yang menarik.

Aksi Nemih, nenek berusia 51 tahun ini sangat luar biasa. Di usianya yang menjelang senja, Nemih mampu menampilkan atraksi yang selayaknya dilakukan pria perkasa. Dengan kedua kakinya, Nemih mampu mengangkat 6 orang sekaligus. Tidak itu saja, dengan konsentrasi dan keseimbangan penuh, sejumlah orang yang diangkatnya juga memainkan akrobat keseimbangan. Musik Tarling yang ditabuh membuat suasana menjadi lebih semarak.

Nemih merupakan bintang primadona di grup Genjring Kuda Putri Baya Langu. Ya, atraksi tradisional ini memang berkembang di wilayah Cirebon dan Indramayu. Meski telah memiliki 2 cucu, namun Nemih tetap perkasa dan trampil memainkan berbagai atraksi. Selain akrobat mengangkat beban dengan kaki, Nemih juga lihai mengendaraisepeda roda satu.

Bahkan sambil mengendong anak-anak, Nemih bisa tetap tegak diatas sadel sepeda. Nemih mengaku telah menjalani profesinya sebagai dalang Genjring lebih 20 tahun. Ketrampilan akrobatik ini dikuasainya melalui latihan keras sejak muda. Menurut Nemih, ketrampilannya ini murni fisik tanpa adanya kekuatan magis.
" Saya biasa Main blabak, main kitiran, main motor, ngangkat becak dan semua itu tidak ada yang ngajari, pokoknya pakai tenaga sendiri" tutur Nemih.

Konon akrobat tradisional yang telah dikembangkan sejak ratusan tahun silam semula merupakan sarana dakwah. Ketrampilan ini berkembang oleh para saudagar Islam dari Gujarat yang menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat pesisir Cirebon. Namun kesenian ini nyaris punah karena tidak adanya re generasi.

Saturday, June 4, 2005

Wisata Indonesia : Upacara Adat Pukul Sapu, Maluku

Persiapan Upacara Adata Pukul Sapu
Berbagai acara ditata oleh umat Islam di Nusantara untuk memeriahkan Hari Raya Idul Fitri setelah sebulan lamanya menunaikan ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan. Salah satu di antaranya adalah upacara adat Pukul Sapu yang digelar oleh masyarakat yang bermastautin di Desa Morella dan Desa Mamala yang masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Baku Pukul Manyapu dan Pukul Manyapu adalah nama lain bagi upacara adat ini.

Upacara adat yang tergolong ekstrem ini digelar setiap tanggal 7 Syawal menurut perhitungan kalender Hijriah/kalender Islam, atau pada hari ke tujuh setelah Hari Raya Idul Fitri. Biasanya, peserta upacara adalah pemuda dari dua desa adat yang bertetangga tersebut. Namun, bila ada peserta dari daerah lain yang ingin berpartisipasi, bisa mendaftarkan diri kepada panitia tiga hari sebelum upacara dilaksanakan. Sekalipun Pukul Sapu adalah tradisi umat Islam Maluku, namun upacara ini juga dihadiri dan melibatkan umat Kristen di daerah tersebut, terutama mereka yang memiliki ikatan kekerabatan (pela) dengan masyarakat dua desa adat ini, seperti masyarakat Desa Lateri yang memiliki ikatan kekerabatan dengan Desa Mamala dan Desa Waai yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Desa Morella. Bahkan, terkadang upacara yang dihelat pada “lebaran hari ke tujuh” ini juga diikuti oleh keturunan Maluku yang sudah menjadi warga negara Belanda.

Konon, upacara adat Pukul Sapu merujuk pada perjuangan Achmad Leakawa, atau yang lebih populer dengan nama Kapitan/Pimpinan Perang Telukabessy beserta anak buahnya, ketika menghadapi tentara Belanda dalam Perang Kapahala (1643-1646 M). Perang ini dipantik oleh pendirian markas VOC (kongsi dagang Belanda) di Teluk Sewatelu, Ambon, pada tahun 1636 M. Perang semakin tak terelakkan ketika tentara Belanda hendak merebut Benteng Kapahala, benteng milik warga Maluku, dengan cara mengepungnya dari berbagai penjuru. Dalam perang ini, para pejuang terdesak akibat serangan dari darat yang didukung tembakan meriam dari kapal-kapal VOC dari laut. Karena tidak berimbang, akhirnya benteng yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Desa Morella dan Mamala tersebut dapat dikuasai oleh Belanda.
Pada perang itu, Kapitan Telukabessy dapat meloloskan diri. Namun, anak buahnya banyak yang berhasil ditangkap tentara Belanda. Sebagian dari mereka kemudian dijadikan tawanan di Teluk Sewatelu dan sebagiannya lagi dibuang ke Batavia, atau Jakarta sekarang. Meskipun berhasil meloloskan diri, Kapitan Telukabessy tetap dihadapkan pada situasi sulit, yaitu antara menyerahkan diri atau anak buahnya dibunuh kompeni. Akhirnya, Kapitan Telukabessy memilih menyerahkan diri pada Komandan Verheijden pada tanggal 19 Agustus 1646. Oleh Gubernur Gerard Demmer, Kapitan Telukabessy dijatuhi hukuman gantung di Benteng Victoria, Ambon, pada tanggal 27 September 1646.

Arena Upacara Adat
Pada tanggal 27 Oktober 1646, setelah ditawan selama tiga bulan di Teluk Sewatelu, anak buah Kapitan Telukabessy tersebut dibebaskan Belanda. Sebelum berpisah dan kembali ke daerah asal masing-masing, mereka menggelar acara perpisahan yang terbilang heroik, dengan menampilkan aneka tari adat, menyanyikan lagu-lagu daerah, dan acara pukul sapu. Tujuan acara pukul sapu adalah agar tetesan darah dari tubuh mereka yang jatuh dan meresap ke tanah dapat mengingatkan mereka untuk berkumpul kembali di tempat tersebut suatu saat nanti.

Ekstrem, atraktif, dan menghibur. Kira-kira demikianlah kesan para pengunjung ketika menyaksikan upacara adat Pukul Sapu yang dihelat di daerah yang dijuluki dengan Negeri Seribu Bukit ini. Karena, setiap peserta upacara yang rutin dihelat saban tahun ini akan mencambuk peserta lain yang berada di hadapannya secara bergantian dengan menggunakan lidi dari pohon enau (Arenga pinnata), yang dalam bahasa Maluku disebut dengan pohon mayang. Lidi enau yang digunakan untuk mencambuk peserta upacara memiliki panjang 1,5-2 meter dengan diameter pangkalnya mencapai 1-3 sentimeter.
Sekalipun upacara adat yang diwariskan secara turun-temurun ini dihelat pada tanggal 7 Syawal, namun kesibukan sudah terlihat di dua desa adat tersebut beberapa hari sebelum pelaksanaan upacara. Sebab, berbagai hal harus dipersiapkan panitia untuk menunjang kelancaran dan kemeriahan upacara, seperti podium, tenda para undangan, arena upacara, stand pameran, warung-warung pedagang, umbul-umbul, dan lain sebagainya.

Sebelum acara puncak Pukul Sapu berlangsung, terlebih dahulu digelar berbagai kegiatan, seperti hadrat (rebana), karnaval budaya, pameran dan festival, balap perahu, penampilan band lokal, dan bahkan penampilan artis ibukota keturunan Maluku. Selain itu, juga ditampilkan aneka tari dari daerah tersebut, seperti tari putri, tari mahina, tari perang, hingga pertunjukan musik yang dibawakan oleh masyarakat dari negeri pela yang beragama Kristen.
Upacara Adat Pukul Sapu
Sementara itu, meskipun pelaksanaan upacara baru dimulai setelah shalat Ashar, para wisatawan baik domestik maupun mancanegara telah berbondong-bondong datang ke dua desa tersebut sejak pagi hari. Bahkan, ada yang tiba di sana 1-2 hari sebelum upacara dimulai. Hal ini dimaksudkan supaya mereka dapat menyaksikan secara langsung tahapan-tahapan persiapan upacara, seperti melihat latihan para peserta upacara, meraut lidi enau, dan proses pembuatan minyak Mamala yang kesohor dengan khasiatnya itu. Konon, minyak yang dibuat pada malam 7 Syawal ini hanya boleh dilakukan oleh keturunan Imam Tuni, tokoh agama Desa Mamala yang menjadi salah satu pendiri Masjid Al-Muttaqien.

Sebelum upacara dimulai, para peserta terlebih dahulu dikumpulkan di suatu tempat untuk mendapatkan doa dari para tetua adat. Hal ini dilakukan dengan harapan agar prosesi upacara berjalan dengan lancar dan seluruh peserta diberi keselamatan oleh Allah SWT. Sebelum memasuki arena upacara, mereka terlebih dahulu berlari-lari kecil mengelilingi kampung. Di Desa Mamala, upacara Pukul Sapu diawali dengan mencambukkan lidi enau ke tubuh peserta upacara oleh pejabat daerah setempat. Sedangkan di Desa Morella, pembukaan upacara ditandai dengan penyulutan obor Kapitan Telukabessy oleh pejabat atau pemuka masyarakat setempat.

Selepas acara pembukaan, upacara adat Pukul Sapu pun dimulai dengan diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai dari para penonton. Para peserta yang hanya menggunakan celana pendek, ikat kepala, dan bertelanjang dada ini dibagi ke dalam dua kelompok dan berdiri berhadap-hadapan. Kedua kelompok tersebut secara bergantian akan menyabetkan lidi enau yang berada di genggaman masing-masing ke pinggang, dada, dan punggung peserta di hadapannya sampai lebam dan berdarah-darah. Untuk mengatur pergantian kelompok yang dicambuk dan kelompok yang menyambuk, para peserta mengikuti aba-aba dari koordinator upacara atau mengikuti alunan gendang. Pergantian juga bisa dilakukan bila peserta yang dicambuk telah terdesak hingga mendekati tempat penonton di pinggir lapangan.

Uniknya, meskipun sekujur tubuh peserta upacara memar-memar dan mengeluarkan darah, namun tak terlihat pada mereka ringis kesakitan atau rintihan mengaduh. Di samping itu, bercak sabetan dan goresan darah akibat cambukan lidi enau dapat disembuhkan dengan cepat tanpa meninggalkan bekas. Di Desa Morella, luka-luka akibat cambukan diobati dengan ramuan dari daun jarak yang terkenal berkhasiat menyembuhkan luka. Sementara di Desa Mamala, luka-luka peserta upacara diobati dengan mengoleskan minyak kelapa yang telah didoakan oleh para tetua adat kepada bagian tubuh yang luka. Minyak kelapa yang dapat mengobati luka dengan cepat tersebut dinamakan minyak Mamala atau minyak Tasala. Konon, khasiat minyak ini telah kesohor ke mana-mana, sehingga menarik minat para ilmuan dari dalam dan luar negeri untuk menelitinya.

Kondisi Peserta setelah Upacara
Setelah upacara adat Pukul Sapu usai, hal lain yang menarik dan membuat wisatawan terhibur adalah ketika para penonton berlomba-lomba memperebutkan lidi-lidi enau dan minyak kelapa bekas peserta upacara. Hal ini dikarenakan lidi-lidi atau minyak tersebut diyakini membawa keberuntungan. Selain untuk memperoleh keberuntungan, sebagian masyarakat menganggap kedua benda tersebut sekadar kenang-kenangan mengikuti upacara adat Pukul Sapu yang dihelat sekali dalam setahun itu.
Sedangkan bagi turis yang punya waktu luang, dapat mengikuti Pesta Basudara, yaitu acara syukuran upacara adat Pukul Sapu, yang digelar di Desa Morella pada malam hari setelah upacara adat tersebut berlangsung.

Upacara adat Pukul Sapu dipusatkan di Stadion Hutusela Desa Morella dan di pelataran Masjid Al-Muttaqien Desa Mamala, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Indonesia.

Bagi wisatawan yang berasal dari luar Provinsi Maluku, dapat memulai perjalanan dari Bandara Pattimura Ambon. Dari sini kemudian wisatawan dapat mencapai lokasi upacara adat Pukul Sapu di Desa Mamala dan Desa Morella dengan menggunakan bus, taksi, atau menyewa mobil carteran. Kedua desa adat tersebut berjarak sekitar 30 kilometer di sebelah utara Kota Ambon, Ibu Kota Provinsi Maluku. Sedangkan bagi wisatawan yang memulai perjalanan dari Kota Masohi, Ibu Kota Kabupaten Maluku Tengah, dapat naik bus atau menyewa mobil carteran menuju lokasi upacara adat Pukul Sapu.